Header Ads

Hindari Hal Hal Ini Agar Kita Tidak Terlihat Bodoh


Kita selalu berusaha keras untuk menjadi lebih. Lebih baik, lebih bahagia, lebih produktif, lebih langsing, lebih sehat, lebih pintar dan seterusnya. Banyak yang menghabiskan waktu untuk memikirkan berbagai kesalahan dan kekurangan yang telah diperbuat.

Tetapi saat terlalu sibuk memikirkan hal-hal besar, kita melupakan hal kecil yang sebenarnya dapat memberikan dampak besar. Misalnya menjaga kebugaran agar otak dapat berfungsi secara maksimal.
Mungkin Anda pintar, punya nilai akademik di atas rata-rata. Namun terkadang Anda bisa tampak bodoh. Menghilangkan kebiasaan yang menyebabkan kebodohan tersebut akan lebih bermanfaat untuk meningkatkan kecerdasan. Alih-alih mengikuti kursus matematika atau membuat daftar 100 buku yang akan dibaca tahun ini.

Berikut beberapa hal yang tanpa disadari, bisa jadi menjadi penyebab Anda tampak bodoh, atau bahkan bertindak bodoh yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Menghindarinya, akan lebih bijak.

1. Kurang tidur.
Jika Anda sering menunda waktu tidur karena menonton film favorit atau membalas beberapa pesan masuk (yang akhirnya sering berakhir dengan berselancar di internet), sebaiknya hentikan segera.
Seperti dilansir Psyblog, otak yang mengantuk dan lelah harus bekerja lebih keras, sementara ingatan jangka pendek dan jangka panjang memburuk. Kita jadi sulit memusatkan perhatian dan membuat perencanaan. Kurang tidur tidak hanya akan membuat Anda menjadi lebih bodoh, tetapi juga menjadi tidak berwibawa.

2. Terlalu banyak gula.
 Menurut jurnal Neurology, orang yang secara fisik sehat, tetapi memiliki kadar gula dalam darah yang tinggi memiliki masalah dengan kinerja otak. Misalnya daya ingat yang berkurang.
Penelitian menyimpulkan, tanpa mengalami diabetes type 2 atau terganggunya toleransi tubuh terhadap gula, kadar gula yang tinggi berdampak negatif terhadap kemampuan kognitif, khususnya pada bagian pada otak yang relevan dengan proses belajar.

3. Multitasking.
Mengerjakan beberapa kegiatan dalam satu waktu dapat mengganggu kinerja otak, terutama pusat emosi dan kognitif. Bagian ini melibatkan empati, dan pengambilan keputusan. Misalnya menggunakan laptop, telepon dan alat-alat lain secara bersamaan, atau menyetir sambil menelepon yang berisiko mengalami kecelakaan.

Multitasking juga termasuk kegiatan mendengarkan musik, sambil bermain video gim. Juga berbicara di telepon atau membaca koran dengan televisi dalam keadaan menyala. Studi yang perlu pendalaman ini selaras dengan studi-studi sebelumnya, bahwa multitasking berhubungan dengan masalah emosi, seperti gelisah atau depresi.

4. Diet tinggi lemak.
Fleksibilitas kognitif merupakan kemampuan untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan perubahan situasi. Misalnya, kita tidak dapat segera menemukan jalan alternatif untuk menuju rumah atau kantor, ketika jalan yang biasa kita lalui ditutup karena terjadi sesuatu. Diet yang terlalu ketat untuk konsumsi lemak dapat mengganggu kemampuan berpikir secara fleksibel, atau fleksibilitas kognitif pada otak.

5. Tergantung pada mesin pencari di internet.
Menurut riset yang dilakukan Matthew Fisher, ketergantungan pada mesin pencari membuat kita merasa lebih tahu banyak daripada keadaan sebenarnya. Membuat kita merasa lebih pintar, sekalipun hasil pencarian tidak sepenuhnya menjelaskan apa yang kita cari.

Karena itu, ketika kita tidak dapat mengakses mesin pencari, apa yang kita ketahui tentang sesuatu itu menjadi tidak akurat, dan menunjukkan betapa besar ketergantungan kita pada internet. Kita jadi melupakan sumber informasi lain yang juga tak kalah penting.

6. Sok tahu.
Seringkali, orang yang mengklaim tahu banyak, ternyata tidak tahu apa-apa, atau pengetahuannya tidak sebanyak yang digembar-gemborkan. Peneliti tentang hal ini memberi contoh, “Semakin percaya seseorang tentang isu keuangan secara umum, mereka akan semakin mudah terjebak istilah dalam keuangan yang belum tentu benar”.

Pola yang sama ditemukan di bidang biologi, sastra, filsafat, dan geografi. Meski demikian, hasil penelitian yang dilansir di jurnal Psychological Science (2015) itu, menyatakan bahwa tak mudah menebak seberapa dalam pengetahuan seseorang, khususnya bagi mereka yang percaya diri punya pengetahuan tentang sesuatu.

Namun tidak berlaku sebeliknya: Orang yang merasa tidak tahu apa-aoa, tidak berarti is sebenenarnya seorang ahli dalam bidang tertentu. Paling tidak, belum ditemukan hasil penelitian yang menjawab hipotesis tersebut.

7. Kelelahan (fatigue).
Menurut riset yang diadakan oleh Dr. Ranjana Mehta, kelelahan atau fatigue disebabkan karena stres mental dan fisik. Hal ini menyebabkan penurunan fungsi area otak yang digunakan untuk perencanaan dan kontrol.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.